• Beranda
  • kolom
  • Benarkah Kemiskinan Menjadi Perhatian Serius Balon Gubernur Riau?

Benarkah Kemiskinan Menjadi Perhatian Serius Balon Gubernur Riau?

Senin,02 Juli 2012 | 04:15:00 WIB Dibaca: 582 kali
Benarkah Kemiskinan Menjadi Perhatian Serius Balon Gubernur Riau?
Ket Foto :

Kemiskinan adalah merupakan suatu masalah yang sangat gencar didengungkan, penguasa dan calon penguasa saling berlomba-lomba mengumbar janji untuk dapat mengatasinya.

Namun kenyataannya masyarakat tetap saja dalam jurang kemiskinan yang belum dapat diangkat hingga saat ini. Masyarakat belum mampu melihat realita dari sebuah program yang mengatasnamakan pemberantasan kemiskinan, atau dari sebuah proyek-proyek yang mengatasnamakan pengembangan ekonomi masyarakat desa, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat tetap saja hanya bisa mendengar ucapan manis itu,, tapi tidak merasakan manisnya realita ucapan itu.
 
Sejak terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak pertengahan tahun 1997 hingga kini dan bahkan ditambah lagi dengan krisis global mempunyai dampak terhadap jumlah masyarakat miskin di Provinsi Riau. Selain itu dampak yang sangat dirasakan oleh penduduk miskin baik didaerah pedesaan maupun daerah perkotaan, dimana semakin sulit mendapatkan modal usaha yang betul-betul berpihak kepadanya dalam upaya meningkatkan pendapatan.

Menjelang pilkada ini konsep yang paling dominan dijanjikan para balon gubernur adalah terkait peningkatan kesejahteraan masyarakat, apakah karena betul-betul ingin meningkatkan atau hanya sekedar basa basi untuk mempengaruhi masyarakat agar dapat jabatan,, kita tidak pernah tau.,,,, karena secara umum konsep yang ditawarkan juga tidak ada spesifik atau mengarah langsung kepada kebutuhan masyarakat. Padahal semestinya mereka para pemimpin harus memiliki konsep jadi untuk melakukan sebuah perubahan, bukan hanya sekedar bicara atau program pelancar proyek belaka.

Karena untuk kedepan semestinya pemerintah dalam membuat kebijakan pembangunan harus berorientasi pada sektor pedesaan yang lebih diarahkan melalui pemberdayaan ekonomi rakyat, dimana rakyat harus mampu menggerakan dinamika ekonomi berbasis pedesaan.

Selama ini orientasi pembangunan cenderung berpihak pada pembangunan fisik dan pertumbuhan, dalam arti kata lebih diarahkan untuk pembangunan sarana dan prasarana, guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara makro. Pembangunan ekonomi secara mikro dalam arti yang sesungguhnnya untuk masyarakat pedesaan yang telah punya usaha sering tertinggal sehingga pendayagunaan sumber daya manusia dan masyarakat hampir tertinggalkan.

Padahal, semakin tinggi seseorang mampu meningkatkan pemakaian faktor-faktor produksi yang ia kuasai maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan yang diraihnya. Demikian pula sebaliknya, orang menjadi miskin karena tidak punya ekses yang luas dalam memilki faktor-faktor produksi walaupun fakor-fator produksi itu adalah dirinya sendiri. Kemiskinan dan kesejahteraan ibarat dua sisi mata uang yang tidak terlepas dimanapun diletakan.

Apalagi, kebijakan program pembangunan dewasa ini yang telah dilaksanakan selama ini seringkali bersifat parsial dan direncanakan dari atas (top down) sehingga seringkali kurang atau bahkan tidak mencerminkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat banyak.

Selain itu, implementasinya kurang mendayagunakan potensi desa tersebut, sehingga dapat mematikan inisiatif lokal. Akhirnya apapun program dan kebijakan yang dibuat rasa memiliki sangat rendah dan bahkan tidak dapat dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkannya kondisi ini membuat masyarakat miskin semakin terpuruk.

Dengan kondisi demikian tentunya sangat ironis sekali jika para pejabat dan calon pejabat hanya sekedar berjanji dan berbicara basa basi dalam upaya mempengaruhi perhatian masyarakat. Sehingga akhirnya sikap antipati dan ketidak acuan masyarakat terhadap apapun akan semakin mengemuka, karena memang mereka hanya sekedar di obok-obok oleh janji manis dan mulut berbisa… berhentilah menggunakan sifat kemunafikan dan ketamakan, karena dengan sifat tersebut ketidakadilan sudah pasti akan menunjukkan wajahnya ke permukaan, dan akhirnya rakyat tidak lagi dijadikan sebagai pemberi amanah yang mesti dijalankan penguasa, tapi sebagai media untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan belaka. **



Penulis:




Ali Azmi
Akademisi di Universitas Islam Riau (UIR)


Baca Berita Terkait

Berita Lainnya

APA KOMENTAR ANDA...???
comments powered by Disqus
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.